Jumat, 30 Mei 2008

MASALAH-MASALAH KHUSUS TATANIAGA DI TINGKAT PRODUSEN (PETANI)

by : Ester Dorina Leatemia, SP,MP
(rina_lea@yahoo.com)
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Patimura
Ambon, 30 Mei 2008


Banyak masalah yang dihadapi oleh petani baik yang berhubungan langsung dengan produksi dan pemasaran hasil-hasil pertaniannya. Petani secara umum dalam proses tataniaga berada dalam kondisi yang lemah. Masalah–masalah khusus yang dihadapi petani dalam tataniaga dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Sistem Sosial-Budaya
  2. Pengelolaan Manajemen (Ilmu Pengetahuan) Yang Kurang Baik.
  3. Sistem Pertanian Subsisten
  4. Kebijakan-Kebijakan yang Kurang Mendukung.
  5. Jarak Antara Produsen dan Konsumen.
  6. Sifat dan Bentuk Produk.
  7. Jumlah Produk Pertanian Yang Akan Di Pasarkan Sedikit dan Tidak Kontinu.
  8. Minimnya Sarana dan Prasarana Fasilitas (Pengangkutan, Penyimpanan, dan Pengolahan).
  9. Lokasi Produsen (Petani) yang Terpencar.
  10. Harga Komoditi Yang sering Berfluktuasi Secara Tajam.
  11. Minimnya Respon dari Produsen Terhadap Permintaan Pasar.
  12. Minimnya Informasi Pasar.
  13. Kebutuhan Modal yang Mendesak.
Untuk memperoleh keterangan secara keseluruhan dapat mengirimkan email



Representasi Kemiskinan dan Kesenjangan Sosial Dalam Kumpulan Cerpen Kurma dan Model Pembelajarannya di Sekolah Menengah Atas

by : Rizki Lesmana H, S.Pd (Alumni UPI Bandung)
Bandung, 30 Mei 2008



Penelitian ini berangkat dari beberapa permasalahan. Pertama, bagaimana struktur cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Kurma? Kedua, bagaimana representasi kemiskinan dan kesenjangan sosial dalam kumpulan cerpen Kurma? Ketiga, sesuaikah cerpen-cerpen tersebut untuk dijadikan alternatif bahan pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas (SMA)? Keempat, bagaimana model pembelajarannya di SMA?

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini. Pertama, memperoleh gambaran mengenai struktur cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Kurma. Kedua, memperoleh deskripsi yang berkenaan dengan representasi kemiskinan dan kesenjangan sosial dari cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Kurma. Ketiga, mengetahui apakah cerpen-cerpen dalam kumpulan cerpen Kurma dapat dijadikan alternatif bahan pembelajaran dan dirancang model pembelajarannya di SMA.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif. Metode ini digunakan untuk meneliti, antara lain suatu subjek dengan tujuan membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta, sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala dan kelompok tertentu serta hubungan antar fenomena.

Kumpulan cerpen Kurma berisi 11 cerpen pilihan dari harian Kompas. Tema yang diangkat kumpulan cerpen ini adalah sekitar puasa dan lebaran. Jika dilihat secara struktural, kumpulan cerpen ini dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah yang menganggap puasa sebagai ajang penyucian diri yang penuh dengan berkah dan kisah-kisah yang sifatnya mistik. Sedangkan kelompok kedua menganggap puasa dan lebaran sebagai latar waktu khusus yang menjadi media untuk mengangkat fenomena-fenomena sosial di Indonesia.

Beberapa fenomena yang khas kerap tejadi di bulan Ramadhan. Misalnya mudik, yang merupakan mobilisasi penduduk secara massal dari kota ke desa. Mudik merupakan gambaran dari tingginya tingkat urbanisasi yang dilakukan atas motif ekonomi. Kesenjangan ekonomi wilayah kota dan desa menjadi salah satu indikasi terjadinya urbanisasi. Prospek hidup perkotaan memancing para penduduk untuk datang dan meninggalkan desa yang identik dengan kemiskinan. Lebaran adalah momen bagi mereka untuk kembali ke kampung halamannya, setelah setahun penuh hidup di kota. Fenomena lain yang kerap terjadi di bulan Ramadhan adalah naiknya harga-harga di pasaran. Kebutuhan yang melonjak menjelang Lebaran berbanding terbalik dengan ketersediaan barang-barang, sehingga harganya melonjak naik. Kenaikan harga itu menegaskan betapa puasa dan lebaran menyimpan problematika sosial yang tidak kunjung usai.

Setidaknya terdapat lima cerpen yang mengangkat fenomena-fenomena seperti itu. Cerpen-cerpen tersebut diantaranya adalah ”Tiga Butir Kurma per Kepala” karya Yusrizal K. W., ”Menjelang Lebaran” karya Umar Kayam, ”Malam Takbir” karya Hamsad Rangkuti, ”Lebaran” karya Taufik Ikram Jamil, dan ”Jakarta Sunyi Sekali di Malam Hari” karya Jujur Prananto.

Pendekatan yang digunakan untuk penelitian ini adalah sosiologi sastra. Pendekatan tersebut cocok digunakan untuk mencari relevansi antara karya sastra dengan realita. Setelah diteliti ternyata kelima cerpen tersebut menjadi representasi kemiskinan dan kesenjangan sosial di saat bulan Ramadhan. Selain itu, cerpen-cerpen tersebut cocok untuk dijadikan alternatif bahan pembelajaran apresiasi sastra dan dirancang model pembelajarannya di SMA.



Senin, 26 Mei 2008

Susu, Tak Pernah Ingkar Janji

http://www.femina-online.com/

Memang tidak salah jika orang tua kita dulu sering ‘memaksa’ kita rajin minum susu. Pasalnya, dalam segelas susu, kita bisa mereguk segudang manfaat bagi kesehatan tubuh.

Kendati demikian, pakar nutrisi dari Klinik Primavita, dr. Carmelita Ridwan mengingatkan bahwa tanpa dibarengi dengan pola makan dan pola hidup sehat, khasiat susu tidak akan nyata. Berikut cuplikan penjelasan dr.Carmelita terhadap berbagai produk baru susu yang menjanjikan bermacam khasiat tambahan.

SUSU MURNI (FULL-CREAM)
Susu sapi murni umumnya mengandung 3,5% lemak. Kemurnian susu dapat terlihat pada permukaan cairan, yaitu adanya lapisan menggumpal yang menandakan kadar lemak yang tinggi. Kandungan kadar lemak jenuh yang tinggi ini dapat memicu kenaikan kolesterol darah.

SUSU NON-FAT (SKIM)
Susu non-fat atau susu skim hanya mengandung 0,3% lemak dan memiliki kadar kalsium yang lebih tinggi daripada susu murni. Itu sebabnya, susu non-fat sangat dianjurkan bagi orang dewasa dan anak-anak yang mengalami obesitas.

SUSU FERMENTASI
Selama proses fermentasi, laktosa dalam susu diubah menjadi asam laktat yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme merugikan. Untuk menunjang proses fermentasi diperlukan peran bakteri tertentu, yaitu Lactobacillus Bulgaris yang juga bermanfaat menjaga kesehatan usus. Contoh susu fermentasi adalah yoghurt dan koumiss

PENDIDIKAN PANCASILA (Untuk Perguruan Tinggi).


By : Drs. H. A. Syarifuddin Adenan, M.Pd
Palembang, 26 Mei 2008
Dosen Politeknik Negeri Sriwijaya
BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendidikan Pancasila Sebagai Mata Kuliah
1. Dasar Penyelenggaraan

Dalam Buku Pedoman Universitas Sriwijaya tahun akademik 2002/2003 menyebutkan bahwa Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (sekarang Menteri Pendidikan Nasional) No.56/U/1994 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa antara lain, menetapkan bahwa :

  • a. Kurikulum Inti, yaitu kelompok bahan kajian dan pelajaran yang harus dicakup dalam suatu program studi, dirumuskan dalan kurikulum yang ditetapkan oleh Menteri yang berlaku secara nasional.
  • b. Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewiraan/Kewarganegaraan termasuk dalam Mata Kuliah Umum (MKU) dan wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi.

2. Garis-garis Besar Program Pengajaran (GBPP) Mata Kuliah Umum (dulu MKDU) disebut sebagai kurikulum inti, melalui Keputusan Menteri P dan K tersebut di atas, kurikulum tersebut perlu diubah dan disempurnakan menjadi GBPP MKU yang disesuaikan dengan mengacu kepada UU. No.2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, PP No.30 tahun 1990 tentang Pendidikan Tinggi.

Dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 267/DIKTI/Kep/2000 tentang Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa menetapkan bahwa Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan (dahulu Pendidikan Kewiraan) yang meliputi Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN) dan wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi. Dalam proses perubahan dan penyempurnaan secara bertahap disusun GBPP dari masing-masing mata kuliah dimaksud.

Penyempurnaan selanjutnya terhadap kelompok Mata kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) khususnya kelompok MPK Pendidikan Pancasila dilakukan dengan SKEP Dirjen DIKTI No.38/DIKTI/Kep/2002 tentang rambu-rambu Pelaksanaan Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan Tinggi.

3. Tujuan Pendidikan Pancasila

Pendidikan Nasional Indonesia telah tertuang dalam GBHN tahun 1998 yang arah kebijaksanaannya adalah : “Pendidikan nasional yang berdasarkan pada kebudayaan bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Diarahkan untuk meningkatkan kecerdasan kehidupan bangsa dan kualitas sumber daya manusia, mengembangkan manusia dan masyarakat Indonesia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berbudi pekerti yang luhur, memiliki pengetahuan keahlian dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri, menumbuhkan dan mepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan, wawasan keunggulan, kesetiakawanan sosial, kesadaran pada sejarah bangsa dan memiliki sikap menghargai jasa para pahlawan serta berorientasi ke masa depan”.

Selanjutnya disebutkan bahwa Pendidikan Pancasila tersebut ditingkatkan agar mampu membentuk watak bangsa yang kokoh, karena bangsa Indonesia selalu menghadapi banyak tantangan sepanjang zaman.

4. Visi, Misi dan Kompentensi Pendidikan Pancasila

a. Visi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi menjadi sumber nilai dan pedoman penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya selaku warganegara yang Pancasilais.

b. Misi Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi membantu mahasiswa agar mampu mewujudkan nilai-nilai dasar Pancasila serta kesadaran berbangsa, bernegara dalam menerapkan ilmunya secara bertanggung jawab terhadap kemanusiaan.

c. Kompentensi Pendidikan Pancasila bertujuan untuk menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia intelektual serta mengantarkan mahasiswa memiliki kemampuan untuk :

1) Mengambil sikap bertanggung jawab sesuai dengan hati nuraninya.

2) Mengenali masalah hidup dan kesejahteraan serta cara-cara pemecahannya.

3) Mengenali perubahan-perubahan dan perkembangan IPTEK.

4) Memaknai peristiwa sejarah dan nilai-nilai budaya bangsa duna menggalang persatuan Indonesia.

5. Tujuan Pembelajaran Umum

Mahasiswa diharapkan dapat memiliki pengetahuan dan memahami landasan dan tujuan Pendidikan Pancasila, Pancasila sebagai karya besar bangsa Indonesia yang setingkat dengan ideologi besar dunia lainnya. Pancasila sebagai paradigma dalam kehidupan kekaryaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan, sehingga memperluas cakrawala pemikirannya, menumbuhkan sikap demokratis pada mereka dalam mengaktualisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.

Mahasiswa diarahkan untuk dapat memahami latar belakang historis kuliah Pendidikan Pancasila, dengaan memahami fakta budaya dan filsafat hidup bangsa Indonesia yang merupakan suatu pandangan hidup. Mereka diarahkan untuk memahami tujuan hidup bersama dalam suatu negara dengan cara mendiskusikannya diantara mereka.

Minggu, 25 Mei 2008

Jack, Queen, dan King


by : Haeran, SS
Jambi, 25 Mei 2008

Bu Guru bertanya kepada murid-muridnya, “Siapa yang bisa berhitung?”

Si Noel mengangkat tangan.
“Benar kamu bisa berhitung?”
“Bisa Bu. Ayah yang mengajari.”
“Baik, coba kita lihat. Setelah tiga, berapa?”
“Empat.”
“Bagus. Setelah enam?”
“Tujuh.”
“Setelah sembilan?”
“Sepuluh…”, jawab si Noel.
“Bagus sekali. Rupanya ayahmu benar-benar tahu bagaimana mengajar berhitung. Lalu setelah sepuluh?” tanya Bu Guru lagi.
Dengan senyum penuh keyakinan, si Noel menjawab, “Jack, Queen, dan King.”

ANALISIS KONSENTRASI PENYEBARAN AKTIVITAS DAN ANALISIS KETIMPANGAN WILAYAH

Dengan Menggunakan Metode Location Quotient (LQ), Lokalisasi (a), Spesialisasi (b), Basic Service Ratio(BSR), Regional Employment (REM), Analisis Indeks Williamson dan Analisis Tipologi Klassen (Kasus Sumatera Barat)

By; Ir. M. Ardi Kurniawan, MP
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti Padang
Suatu wilayah dapat dianggap sebagai sekumpulan (satu set) lokasi- lokasi kegiatan- kegiatan yang masing- masing menggunakan suatu area bagian daripada wilayah tersebut. Dalam perkataan lain, wilayah merupakan suatu unit geografis yang dibatasi oleh kriteria tertentu yang diantara bagian-bagiannya terdapat saling ketergantungan secara internal.

Dalam melakukan perencanaan wilayah secara holistik diperlukan adanya pemahaman terhadap karakteristik wilayah sehingga dapat menentukan keberlangsungan pembangunan wilayah yang tepat lokasi, tepat sasaran dan tepat teknologi, sehingga optimalisasi pendayagunaan sumberdaya pembangunan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Perencanaan wilayah pada dasarnya bertujuan untuk mengembangkan suatu wilayah sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Pengembangan wilayah ini merupakan suatu periode dimana terjadi perubahan dalam produktivitas wilayah yang diukur dengan populasi, lapangan kerja, pendapatan, dan kegiatan produksi manufaktur. Pengembangan wilayah juga berarti pengembangan sosial seperti kualitas kesehatan publik dan kesejahteraan, lingkungan dan kreatifitas. Secara konseptual, pengembangan wilayah ini ditentukan oleh adanya integrasi antara kandungan sumberdaya lahan, lokasi ekonomi, keterampilan spesifik, karakteristik budaya dan pusat- pusat pelayanan ekonomi.

Terdapat dua konsep dalam pengembangan wilayah. Pertama, konsep Development From Above, yang menekankan bahwa perkembangan dimulai dari beberapa sektor yang dinamis (unggulan) atau sekelompok wilayah tertentu yang kemudian menjalarkan perkembangannya ke sektor-sektor lain sehingga terjadi perkembangan wilayah secara luas. Konsep ini didukung oleh beberapa teori diantaranya Big Push Theory, Growth Pole Theory, Growth Center Theory dan Central Place Theory. Kedua adalah konsep Development From Below yang merupakan antitesa dari Development From Above . Inti dari konsep ini ialah pembangunan wilayah harus didasarkan pada sumberdaya alam dan sumberdaya manusia serta berorientasi kepada kebutuhan mendasar dari masyarakat di wilayah tersebut. Pendukung konsep ini ialah konsep Agropolitan dan Selective Spatial Closure. Perkembangan lebih lanjut dari konsep Development From Below adalah Local Economic Development (LED)



Sabtu, 24 Mei 2008

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN (Untuk Perguruan Tinggi)

By : Drs. H. A. Syarifuddin Adenan, M.Pd
Palembang, 24 Mei 2008
Dosen Politeknik Negeri Sriwijaya





BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Pendidikan Kewarganengaraan

Adalah suatu program pendidikan yang berfungsi dalam memberikan bekal kepada peserta didik mengenai pengetahuan tentanh hubungan antara negara dan warganegara serta pengetahuan tentang bela negara.
Pengetahuan tentang Bela Negara ini melalui Pendidikan Pendahuluan Bela Negara (PPBN).

B. Tujuan Pendidikan Kewarganengaraan
Agar peserta didik memiliki motivasi bahwa Pendidikan Kewarganengaraan yang diberikan kepada mereka berkaitan erat dengan peran dan kedudukan serta kepentingan mereka sebagai individu, anggota keluarga, anggota masyarakat dan sebagai warga negara Indonesia yang terdidik, serta bertekad dan bersedia untuk mewujudkannya.

C. Visi, Misi, dan Kompetensi Pendidikan Kewarganengaraan

  1. Visi Pendidikan Kewarganengaraan di Perguruan Tinggi adalah menjadi sumber nilai dan pedoman penyelenggaraan program studi dalam mengantarkan mahasiswa mengembangkan kepribadiannya selaku warga negara yang berperan aktif menegakan demokrasi menuju masyarakat madani
  2. Misi Pendidikan Kewarganengaraan di Perguruan Tinggi adalah membantu mahasiswa selaku warga negara agar mampu mewujudkan nilai-nilai dasar perjuangan bangsa Indonesia serta kesadaran berbangsa, bernegara dalam menerapkan ilmunya secara bertanggung jawab terhadap kemanusian.
  3. Kompetensi Pendidikan Kewarganengaraan di Perguruan Tinggi adalah bertujuan untuk menguasai kemampuan berpikir, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas sebagai manusia intelektual, serta mengantarkan mahasiswa selaku warga negara Republik Indonesia yang memiliki :
  • Wawasan kesadaran bernegara untuk bela negara dengan perilaku cinta tanah air.
  • Wawasan kebangsaan, kesadaran berbangsa demi ketahanan nasional.
  • Pola pikir, sikap, yang komprehensif integral pada seluruh aspek kehidupan nasional.

WELCOME


Tukaran Link Yook !!!!!

http://www.mardikurniawan.blogspot.com

Gabung di Komunitas Bloggger

Visit http://comments-friends.blogspot.com/ for more comments.
Pencarian melalui http://www.google.com
Google

Seberapa beratkah Blogmu ??

Web/Blogmu: Masukkan alamatnya, jika lebih dari 100 KB berarti blogmu loadingnya lama
Your domain(s): Enter each address on a new line (Maximum 10)
 
(contoh. mardikurniawan.blogspot.com)    
 

Powered by iWEBTOOL